Sabtu, 29 Januari 2022

 

MATERI BAB II

PEDAGANG, PENGUASA DAN PUJANGGAPADA MASA KLASIK

(HINDU DAN BUDHA)

(Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Mataram Kuno, Kerajaan Kediri)

 


A.  Kerajaan Sriwijaya

1.       Perjalanan Siddhayatra

Kemaharajaan Sriwijaya telah ada sejak 671 sesuai dengan catatan I Tsing. Dari prasasti Kedukan Bukit pada tahun 682 di diketahui imperium ini di bawah kepemimpinan Dapunta Hyang. Bahwa beliau berangkat dalam perjalanan suci siddhayatra untuk “mengalap berkah”.

Dengan memimpin 20.000 tentara dan 312 orang di kapal dengan 1.312 prajurit berjalan kaki dari Minanga Tamwan menuju Jambi dan Palembang. Diketahui, Prasasti Kedukan Bukit adalah prasasti tertua yang ditulis dalam bahasa Melayu.

 

 

 


                                                                                                               Gbr. Situs

                                                                                                               Peninggalan

                                                                                                               Kerajaan

                                                                                                               Sriwijaya

 

 

Para ahli berpendapat bahwa prasasti ini mengadaptasi ortografi India untuk menulis prasasti ini. Pada abad ke-7 ini, orang Tionghoa mencatat bahwa terdapat dua kerajaan yaitu Malayu dan Kedah menjadi bagian kemaharajaan Sriwijaya.

Berdasarkan prasasti Kota Kapur yang berangka tahun 686 ditemukan di pulau Bangka. Kemaharajaan ini telah menguasai bagian selatan Sumatera, pulau Bangka dan Belitung, hingga Lampung. 

2.         Kehidupan Politik Kerajaan Sriwijaya

Kehidupan politik kerajaan Sriwijaya dapat ditinjau dari :

a.    Raja-raja yang memerintah,

b.   Wilayah kekuasaan, dan

c.    Hubungannya dengan pihak luar negeri.

Setelah berhasil menguasai Palembang, ibukota Kerajaan Sriwijaya dipindahkan dari Muara Takus ke Palembang.   Pada abad ke-7 M, Kerajaan Sriwijaya telah berhasil menguasai kunci-kunci jalan perdagangan yang penting seperti Selat Sunda, Selat Bangka, Selat Malaka, dan Laut Jawa bagian barat.

Pada abad ke-8 M, perluasan Kerajaan Sriwijaya ditujukan ke arah utara, yaitu menduduki Semenanjung Malaya dan Tanah Genting Kra.

 

Pendudukan pada daerah Semenanjung Malaya memiliki tujuan untuk menguasai daerah penghasil lada dan timah. Sedangkan pendudukan pada daerah Tanah Genting Kra memiliki tujuan untuk menguasai lintas jalur perdagangan antara Cina dan India.

3.         Kehidupan Ekonomi Kerajaan Sriwijaya

Di dunia perdagangan, Sriwijaya menjadi pengendali jalur perdagangan antara India dan Tiongkok, yakni dengan penguasaan atas Selat Malaka dan Selat Sunda.

Orang Arab mencatat bahwa Sriwijaya memiliki aneka komoditas seperti : kapur barus, kayu gaharu, cengkeh, pala, kepulaga, gading, emas, dan timah.

Kekayaan yang melimpah ini telah memungkinkan Sriwijaya membeli kesetiaan dari vassal-vassal-nya  (Vassal = Pengikut) di seluruh Asia Tenggara.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


4.       Kehidupan Agama Kerajaan Sriwijaya

Sebagai pusat pengajaran Buddha Vajrayana, Sriwijaya menarik banyak peziarah dan sarjana dari negara-negara di Asia,  antara lain pendeta dari Tiongkok I Tsing, yang melakukan kunjungan ke Sumatera dalam perjalanan studinya di Universitas Nalanda, India, pada tahun 671 dan 695.

 I Tsing melaporkan bahwa Sriwijaya menjadi rumah bagi sarjana Buddha sehingga menjadi pusat pembelajaran agama Buddha. Selain berita diatas, terdapat berita yang dibawakan oleh I Tsing, dinyatakan bahwa terdapat 1000 orang pendeta yang belajar agama Budha pada Sakyakirti, seorang pendeta terkenal di Sriwijaya.

5.       Masa Keemasan Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya mencapai puncaknya di abad ke-9 saat dipimpin oleh Balaputradewa. Pada masa ini pula Selat Malaja (Malaka) sebagai jalur utama perdagangan berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya.   Puncak kejayaan ini juga terlihat dari beberapa bidang lain seperti politik, ekonomi, maritime serta penguasaan wilayah.

 

Pengaruh Kerajaan Sriwijaya bahkan mencapai Thailand dan Kamboja yang dibuktikan dengan Pagoda Borom That di wilayah Chaiya, Thailand yang memiliki gaya arsitektur Sriwijaya.

 

6.      Keruntuhan Kerajaan Sriwijaya

Melemahnya kekuatan militer menyebabkan beberapa daerah melepaskan diri. Selain itu, factor runtuhnya kerajaan Sriwijaya adalah serangan Majapahit pada tahun 990 Masehi terhadap kerajaan Sriwijaya, serangan kerajaan Chola pada tahun 1025 Masehi, kondisi alam yang berubah, dan masuknya pengaruh Islam.

 

                                                       Gbr. Serangan Majapahit ke Sriwijaya

 

 

 

 

 

 

7.      Raja-Raja yang memimpin Kerajaan Sriwijaya

Selama memulai kerajaannya hingga menemui puncak kekuasaan dan keruntuhannya, Sriwijaya dipimpin oleh raja-raja berikut :

a.    Dapunta Hyang Sri Jayanasa

b.   Indrawarman

c.    Dharanindra

d.   Samaratungga

e.    Rakai Pikatan

f.     Balaputradewa

g.    Sri Udayadityawarman

h.   Sri Cudamaniwarmadewa

i.      Sri Marawijayottunggawarman

j.      Sri Sanggramawijayottunggawarman

k.    Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa

 

 

 

 

 

 

 

B.     Kerajaan Mataram Kuno

I.    Sejarah Berdirinya Kerajaan Mataram Kuno (Kerajaan Medang)

Kerajaan Mataram Kuno merupakan kerajaan Hindu-Buddha yang terletak di Jawa. Kerajaan yang juga dikenal dengan nama Kerajaan Medang ini berdiri pada tahun 732 Masehi (M). Raja pertama sekaligus pendiri dari kerajaan ini bernama Sanjaya. Ia memiliki gelar sebagai Rakai Mataram

Prasasti Cunggrang sebagai Sumber Sejarah pada Masa Mpu Sindok Tahun 929-947 M, Kerajaan Mataram terbagi menjadi dua periode utama.

Periode pertama adalah saat ibukota Kerajaan Mataram berada di Jawa Tengah. Pada periode ini, Kerajaan Mataram dipimpin oleh dua dinasti, yaitu : dinasti Sanjaya dan  dinasti Syailendra.

Periode kedua adalah saat pusat kerajaan berpindah ke Jawa Timur. Pada masa ini Kerajaan Mataram berada di bawah kekuasaan dinasti Icana yang didirikan oleh Mpu Sindok Sri Icanatunggadewawijaya.

II. Kehidupan Sosial Kerajaan Mataram Kuno & Sistem Ekonomi

 Kerajaan Mataram Kuno merupakan salah satu kerajaan di Jawa yang memiliki corak agraris. Maka itu, mayoritas penduduk Kerajaan Mataram Kuno memiliki mata pencaharian di sektor pertanian.

Bukti bahwa perekonomian Kerajaan Mataram Kuno ditopang oleh sektor agraris adalah keterangan dalam prasasti Canggal yang menjelaskan bahwa tanah Jawa kaya akan padi.

Selain itu, wilayah Kerajaan Mataram Kuno memiliki banyak sungai dan dataran subur, baik saat periode Jawa Tengah maupun Jawa Timur.

Kehidupan Sosial-Budaya penduduk Kerajaan Mataram Kuno juga terbilang maju. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya peninggalan, terutama berupa candi. Contoh 2 candi peninggalan era Mataram Kuno yang hingga kini masih kesohor adalah Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

 

                                                Gbr. 1 Candi Borobudur

 

 

 

 

                                                Gbr. 2 Candi Prambanan

 

 

 

 

III.       Agama dan Kepercayaan Kerajaan Mataram Kuno

Wangsa Sanjaya merupakan pemeluk Agama Hindu beraliran Siwa, sedangkan Wangsa Syailendra merupakan pengikut agama Budha.

Wangsa Isana sendiri merupakan wangsa baru yang didirikan oleh Mpu Sindok.

Raja pertama Kerajaan Mataram Kuno adalah Sanjaya yang juga merupakan pendiri Wangsa Sanjaya yang menganut agama Hindu.

Setelah wafat, Sanjaya digantikan oleh Rakai Panangkaran yang kemudian berpindah agama Budha beraliran Mahayana.

Saat itulah Wangsa Sayilendra berkuasa. Pada saat itu baik agama Hindu dan Budha berkembang bersama di Kerajaan Mataram Kuno.

 

 


                                                                                        Gbr. Penganut Budha

                                                                                         Mahayana

 

 

 

 

IV.     Nama Raja-raja Mataram Kuno

Apabila teori Slamet Muljana benar, maka daftar raja-raja Medang sejak masih berpusat di Bhumi Mataram sampai berakhir di Wawatan dapat disusun secara lengkap sebagai berikut:

a.       Sanjaya, pendiri Kerajaan Medang.

b.      Rakai Panangkaran, awal berkuasanya Wangsa Syailendra.

c.       Rakai Panunggalan alias Dharanindra.

d.      Rakai Warak alias Samaragrawira.

e.       Rakai Garung alias Samaratungga.

f.        Rakai Pikatan suami Pramodawardhani, awal kebangkitan Wangsa Sanjaya.

g.       Rakai Kayuwangi alias Dyah Lokapala.

h.      Rakai Watuhumalang.

i.         Rakai Watukura Dyah Balitung.

j.         Mpu Daksa.

k.       Rakai Layang Dyah Tulodong.

l.         Rakai Sumba Dyah Wawa.

m.    Mpu Sindok, awal periode Jawa Timur.

n.      Sri Lokapala suami Sri Isanatunggawijaya.

o.      Makuthawangsawardhana.

p.      Dharmawangsa Teguh, Kerajaan Medang berakhir.

Pada daftar di atas hanya Sanjaya yang memakai gelar Sang Ratu, sedangkan raja-raja sesudahnya semua memakai gelar Sri Maharaja

 

C.      Kerajaan Kediri

I.             Sejarah Kerajaan Kediri

Berdirinya Kerajaan Kediri Raja-raja Kerajaan Kediri adalah keturunan dari Airlangga, raja Medang Kamulan.

Raja Airlangga sendiri yang membagi Kerajaan Medang Kamulan menjadi dua, yaitu Kerajaan Kediri dan Jenggala.

Hal ini dilakukan karena Airlangga memiliki dua putra, yaitu Sri Samarawijaya dan Mapanji Garasakan.

Untuk menghindari perpecahan di antara dua putranya, Airlangga memberikan Kediri (Panjalu) pada Samarawijaya, dan Jenggala (Kahuripan) kepada Mapanji. Kedua kerajaan ini dipisahkan oleh Gunung Kawi dan Sungai Brantas.

 

II.          Kehidupan Sosial Kerajaan Kediri & Sistem Ekonomi

Pada masa kejayaan Kediri, perhatian raja terhadap rakyatnya bertambah besar. Hal ini dibuktikan dengan munculnya kitab-kitab atau karangan yang mencerminkan kehidupan sosial masyarakat pada masa itu.

Seperti kitab Lubdhaka yang mengandung pelajaran moral bahwa tinggi rendahnya martabat seseorang tidak ditentukan oleh asal dan kedudukan, melainkan berdasarkan tingkah lakunya.

Raja turut serta dalam perlindungan terhadap hak-hak rakyat. Sikap memberi perlindungan ini merupakan satu alat efektif untuk melihat perkembangan kehidupan sosial masyarakat Kediri.

Berdasarkan kronik-kronik Cina, tercatat bahwa:

a.    Rakyat Kediri pada umumnya telah memiliki tempat tinggal yang baik.

b.   Hukuman yang dilaksanakan ada dua macam, yaitu hukuman denda dan mati (khusus bagi pencuri dan perampok).

c.    Kalau sakit, rakyat tidak mencari obat, tetapi cukup memuja para dewa.

d.   Pakaian masyarakat Kediri cukup rapi.

e.    Kalau raja bepergian, dikawal oleh pasukan berkuda dan bukan pasukan darat.

f.     Martabat seseorang tidak dilihat dari status, tetapi pada kelakuannya

Catatan para pedagang Cina yang mengumpulkan menjadi kronik-kronik kerajaan, dengan jelas menyebutkan tentang kehidupan rakyat Kediri dalam bidang perekonomian, seperti pertanian dan perdagangan.

Untuk pertanian, rakyat di Kerajaan Kediri ini banyak yang menghasilkan beras, sedangkan untuk perdagangan antara lain yang laku di pasaran pada mas itu adalah emas, perak, daging, kayu cendana, pinang dan lain-lain.

Dari pajak yang dihasilkan berupa hasil bumi, telah dikenal sistem pertukaran dengan uang emas atau perak.

Letak Kediri juga sangat strategis, karena di antara Indonesia Timur dan Indonesia Barat membuat perkembangan ekonomi masyarakat di Kediri yang semakin maju.

 

III.       Agama dan Kepercayaan Kerajaan Kediri

Corak agama masyarakat Kerajaan Kediri disimpulkan dari peninggalan-peninggalan arkeologi yang ditemukan di wilayah Kediri. Candi Gurah dan Candi Tondo Wongso menunjukkan latar belakang agama Hindu, khususnya Siwa.

Petirtaan Kepung kemungkinan besar juga bersifat Hindu, karena tidak tampak unsur-unsur Budhisme pada bangunan tersebut.

Secara umum agama Hindu khususnya pemujaan kepada Siwa mendominasi perkembangan agama pada masa Kediri. Hal ini tercermin dari temuan prasasti, arca-arca, maupun karya-karya sastra Jawa Kuno.

 

V.        Nama Raja-raja Kediri

Berikut Nama-nama raja yang pernah memimpin kerajan Kediri :

1.         Sri Samarawijaya

2.         Sri Jayawarsa

3.         Sri Bameswara

4.         Jayabhaya

5.         Sri Sarwweswara

6.         Sri Aryeswara

7.         Sri Gandra

8.         Mapanji Kamesywara

9.         Krtajaya

 

VI.        Runtuhnya Kerajaan Kediri

Runtuhnya Kerajaan Kediri terjadi pada masa kekuasaan Raja Kertajaya, seperti dikisahkan dalam kitab Pararaton dan Nagarakertagama. Pada tahun 1222, Kertajaya dianggap telah melanggar agama dan memaksa Brahmana menyembahnya sebagai dewa.

Kaum Brahmana lalu meminta perlindungan Ken Arok. Ken Arok yang bercita-cita memerdekakan Tumapel kekuasaan Kediri mencetuskan perang antara Kerajaan Kediri dan Tumapel di dekat desa Ganter.

Keberhasilan Ken Arok mengalahkan Kertajaya menandai runtuhnya Kerajaan Kediri yang kemudian menjadi kekuasaan Tumapel atau Kerajaan Singasari

                                                               


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ingin Belajar Lebih (IBL)

Soal Pendalaman Pilihan Ganda Materi Sosiologi Kelas XI Bab 3. Perbedaan, Kesetaraan, dan Harmoni Sosial (Kurikulum Revisi 2016)

  A.        Pilihlah   jawaban   yang tepat 1.        Kondisi ketika individu hidup sejalan dan serasi serta setiap anggota masyarak...